Kerusuhan Maluku, tambah mantan penyidik Bareskrim Polri ini, pecah karena masyarakat sudah termakan informasih hoax, hingga menimbulkan amarah atau emosional yang sulit dikendalikan.
“Namun stigma negatif terhadap Maluku mulai perlahan-lahan membaik seiring berjalannya waktu. Tapi kita kembali dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di pulau Haruku beberapa waktu lalu,” sesalnya.
Konflik yang terjadi di Pulau Haruku sangat disayangkan. Sesama anak negeri saling serang hingga kembali menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Maluku kembali menangis, perhatian berbagai pihak kembali tertuju ke bumi Para Raja-raja ini.
“Maluku bangkit dan damai hanya berada ditangan orang Maluku. Sebanyak apapun aparat keamanan yang dikerahkan untuk menjaga keamanan dan ketertiban, namun apabila tidak ada kesadaran dari katong (kita) orang Maluku sendiri untuk hidup rukun dan damai dan menjaga kedamaian di Maluku, maka Maluku tetap menjadi daerah yang tertinggal,” jelasnya.
Bahkan, lanjut Rum, jika Maluku tidak segera berbenah, maka stigma sebagai daerah yang tidak aman tak akan hilang. Investor tidak akan berani masuk ke Maluku untuk berinvestasi.
“Tanggung jawab keamanan dan ketertiban memang berada ditangan Polri dan TNI, namun peran serta masyarakat, sangat memegang peranan yang sangat pokok dan penting,” tegasnya.











