Halmahera Timur di Ambang Bencana Ekologis: Dari Surga Hijau ke Neraka Tambang

oleh -9 Dilihat

“Kami dulu bisa mandi di sungai, cuci beras dari air jernih yang mengalir dari pegunungan. Sekarang? Airnya cokelat, pahit, kadang berbau solar. Anak-anak kami tak lagi tahu rasanya air bersih dari tanah sendiri.” —Hasan Bano, warga Subaim, Halmahera Timur.

Babak Baru Kehancuran

Dahulu, Halmahera Timur dikenal sebagai paru-paru Maluku Utara. Pegunungan rimbun, sungai bening, laut yang menggoda birunya. Kini, dalam kurun waktu satu dekade, wajah kabupaten ini berubah drastis. Di mana dulu lumbung pangan dan kekayaan hayati berpijak, kini berdiri ekskavator raksasa, conveyor belt, dan jalan hauling tambang. Asap, debu, dan lumpur menjadi warna baru tanah leluhur.

Data dari Global Forest Watch mencatat bahwa sejak 2001 hingga 2022, Halmahera Timur kehilangan lebih dari 56.000 hektare tutupan hutan primer. Setara dengan dua kali luas DKI Jakarta. Dan hilangnya hutan hanyalah satu dari sekian luka.

Baca Juga  Gemak Desak Kapolda Maluku Usut Dugaan Keterlibatan Oknum Polisi di Kairatu Terkait Galian C di Kairatu

Dalam sepuluh tahun terakhir, geliat pertambangan nikel di Halmahera Timur tak hanya menggusur kampung-kampung adat dan mengkriminalisasi rakyat, tapi juga mengoyak tubuh pulau ini: hutan-hutan dibabat, sungai-sungai tercemar, dan laut berubah menjadi kuburan bagi ikan dan biota laut lainnya.

Subaim Tak Lagi Lumbung Padi

Subaim, wilayah transmigrasi yang pernah menjadi sentra beras dan sayuran Maluku Utara, kini merana. Saluran irigasi rusak akibat jalan tambang dan galian perusahaan. Air tak lagi mengalir ke petak-petak sawah. Petani kini beralih jadi buruh harian tambang. Tanpa pilihan.

No More Posts Available.

No more pages to load.