Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Di negeri yang memilih pemimpin dengan satu suara untuk satu orang, popularitas dapat menjadi kekuatan yang nyaris tak terbendung. Seorang tokoh yang terus-menerus hadir di layar, diberitakan, disurvei, lalu ditempatkan di puncak elektabilitas, perlahan bukan hanya menjadi terkenal—ia mulai dianggap layak. Di titik itulah demokrasi menghadapi pertanyaan yang lebih serius: apakah kita sedang memilih pemimpin karena kemampuannya, atau karena terlalu sering melihat namanya?
Popularitas memiliki satu kelebihan yang tidak dimiliki prestasi: ia mudah dilihat. Prestasi membutuhkan waktu untuk dibuktikan, sementara popularitas cukup dengan kehadiran yang terus-menerus. Wajah yang berulang muncul di layar, potongan pernyataan yang terus beredar, pemberitaan yang datang silih berganti, perlahan membentuk kesan bahwa seseorang memang penting.
Di sinilah survei dapat memainkan peran yang lebih besar daripada sekadar membaca kecenderungan masyarakat. Angka-angka survei, ketika dirilis dan kemudian diberitakan berulang-ulang, dapat berubah menjadi semacam cermin yang justru ikut membentuk wajah yang dipantulkannya. Dari yang semula hanya popularitas, perlahan tampak seperti elektabilitas. Dan elektabilitas, tanpa disadari, mulai dibaca sebagai tanda kelayakan.








