Oleh: M. Isa Ansori, Kolumnis dan Akademisi, Tinggal di Surabaya
Menjelang akhir masa kekuasaannya, Mulyono tak henti-hentinya menunjukkan kerinduan akan kehormatan dan pujian. Ia berharap namanya dikenang sebagai pemimpin besar, diiringi ucapan terima kasih dan penghargaan dari rakyatnya. Namun, ironinya semakin kentara: semakin keras ia meminta, semakin jauh ia dari penghormatan yang sejati.
Mulyono terjebak dalam bayang – bayang semu kepemimpinan. Kecemasan membayangi, karena pujian itu akan semakin tenggelam dan yang ada adalah hujatan dan pengadilan rakyat.
Betapa tidak, didetik detik menjelang ajal kekuasaanya, Mulyono mengerahkan segala daya upaya yang ia masih genggam untuk melakukan mobilisasi pujian dan penghormatan, dengan harapan dia akan dikenang sebagai orang yang berjasa.
Memang ada yang dia lakukan, tetapi selama meimimpin, Mulyono banyak melakukan kebohongan dan ketidak jujuran, kesan merakyat dan sederhana, hanyalah pencitraan, karena dalam berbagai kebijakan yang dia lakukan rakyat dimanfaatkan untuk kepentingan oligarki dan kroninya.
Para buzzer dan media massa bayaran kini dikerahkan untuk menuliskan pujian dan ucapan terimakasih yang berisi pujian akan “prestasi” selama memimpin. Termasuk larangan memuat dan membahas akun fufufafa yang berbau pornografi dan diduga milik Samsul sang putra mahkota.








