Serba curang dan sama-sama curang. Dia suka curang dan kita selalu siap membeking dengan curang pula.
Kita naikkan dia dengan curang. Dia minta untuk dinaikkan lagi dengan curang. Setelah itu, dia buat kebijakan-kebijakan yang curang. Terus saja kita diamkan dengan curang.
Dia pinjam uang dalam jumlah besar dengan curang. Dia gunakan pinjaman itu dengan curang. Kita poles-poles dengan curang semua manipulasi dia itu. Kita jelaskan dengan curang bahwa dia adalah orang yang cuma ngerti kerja, kerja, kerja, tapi kerja curang.
Di DPR, kita bela dia dengan curang. Di media hebat-hebat, kita sajikan dengan curang kehebatan dia dalam berbuat curang. Di kongres-kongres partai, kita katakan dengan curang kepada rakyat bahwa dia tidak curang ketika dia setiap hari bertindak curang.
Dia paksakan Omnibus Law Cipta Kerja dengan curang. Diiyakan oleh DPR dengan curang. Kemudian kita bela-bela bahwa itu tidak curang.
Dia tangani wabah Covid dengan curang. Banyak pembesar bisa kantongi uang limpahan dengan curang. Kemudian Perdana Menteri bilang tidak ada yang curang. Setelah itu, kita diam dalam curang.
Dengan curang, dia paksakan anaknya ikut pilpres yang dikampanyekan dengan curang. Semua pembantu di Istana siap menjadi mesin politik curang. Para menteri pun bersekutu dalam koalisi curang supaya si anak curang bisa menang curang demi melanjutkan jalan curang.











