Haruskah Kutulis Aku Bahagia?

oleh -197 views

Cerpen Karya: Rahmat M. Harahap

“Bu, kalau Ibu, saya yakin pasti orang yang bahagia,” kata petugas survei dari Badan Pusat Statistik (BPS) tersenyum setelah dia dipersilakan duduk sambil tangannya menyodorkan lembaran kuisioner Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan kepada Ibu Sartika, salah satu kepala bidang (kabid) di Kantor Dinas Provinsi.

“Kalau sudah yakin saya bahagia kenapa harus jadi sampel lagi?” Bu Kabid Sartika nanya balik.

“Inikan survei, Bu. S emua sampel kita anggap sama. Perkataan saya tadi tidak berhubungan dengan survei. Itu karena saya merasa sudah kenal lama dengan Ibu. Saya selalu mengikuti semua medsos ibu baik Instagram ataupun Facebook,” jawab cewek petugas survei dari BPS itu tersenyum lebar dan sinar matanya menyiratkan kekaguman.

“Lho, kenapa rupanya dengan Instagram dan Facebook saya?” tanya Bu Sartika sambil bibirnya tersenyum tipis.

Baca Juga  Harga Bawang Merah di Maluku Utara Tertinggi Nasional, Tembus Rp95.950 per Kg

“Saya kagum melihat Instagram atau Facebook Ibu yang semuanya menampilkan kepribadian ibu yang mapan, bahagia, dan berkelas,” puji petugas BPS.

Mata Bu Sartika berbinar bahagia karena mendengar ada orang yang mengagumi status-statusnya di media sosial. Tapi Bu Kabid tidak mau cewek di depannya melihat kesemringahannya karena dipuji, maka dia mengalihkan pembicaraan kembali pada masalah survei.

No More Posts Available.

No more pages to load.