Aneh. Bu Sartika heran, pertanyaan kuisioner ini bisa membuatnya tertegun untuk menyelam ke dasar kalbunya, membuka pundi-pundi luka yang tersimpan rapi entah sudah berapa tahun. Apa mungkin karena ini hanya kalimat-kalimat yang tertulis di sebuah kuisioner yang tidak bisa menyebarkan jawaban darinya ke mana-mana?
Tidak ada yang perlu ditakutkan oleh Bu Sartika bila dia menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Lain halnya kalau pertanyaan seperti itu datang dari kerabat atau temannya. Implikasinya sangat banyak. Bisa runtuh semua apa yang dia bangun sekian tahun tentang keluarga harmonis, bahagia, dan sukses. Sehingga sesakit apapun yang dialaminya dalam kehidupan berkeluarga khususnya tentang hubungannya dengan suaminya harus tetap dipoles seolah-olah tidak ada masalah.
Dia harus berperan jadi seorang istri yang bahagia luar dan dalam. Apa karena keletihannya berpura-pura selama ini sehingga ketika dia membaca pertanyaan kuisioner ini dia seakan tiba pada waktu untuk melepaskan semua beban berat yang menghimpit di dadanya? Ada kesedihan perlahan merambat di hati Bu Sartika mengingat semua kejadian dalam rumah tangganya dengan Mas Randy suaminya.
Semua bermula saat suaminya belasan tahun yang lewat dapat promosi menjadi kepala dinas di kabupaten. Pada saat itu mereka sepakat Bu Sartika dan anak-anak tidak ikut boyongan pindah ke kabupaten tempat Mas Randy dapat tugas baru. Alasannya demi pendidikan anak-anak dan Mas Randy juga setiap saat bisa balik karena jarak ibu kota kabupaten tempat Mas Randy kerja kurang lebih sembilan puluh lima kilo meter dari rumah tinggal mereka di ibu kota provinsi. Bu Sartika juga sesekali ke sana ikut acara Darma Wanita di kantor suaminya.









