Mereka didorong menjadi pencipta.
Ekonomi kreatif, musik, seni budaya, pariwisata, UMKM dan teknologi digital disebut sebagai ruang yang harus terus dikembangkan agar generasi muda memiliki kesempatan untuk tumbuh dan menghasilkan karya.
Bodewin ingin anak muda Ambon memiliki dua kaki yang sama kuat: satu berpijak pada sejarah dan kebudayaan, sementara kaki lainnya melangkah ke dunia yang semakin terbuka.
“Beta banggakan generasi muda Ambon menjadi generasi yang berakar kuat pada sejarah dan kebudayaannya, tetapi juga memiliki kemampuan untuk bersaing di tingkat nasional bahkan dunia,” katanya.
Namun, bagi Bodewin, ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar pembangunan fisik dan kemajuan teknologi.
Itulah persaudaraan.
Jalan yang baik, gedung yang megah dan teknologi modern, menurutnya, tidak akan banyak berarti apabila masyarakat kehilangan kepercayaan satu sama lain.
Karena itu, nilai orang basudara, pela gandong, sagu salempeng patah dua, baku bantu, baku kele dan baku jaga harus tetap menjadi kekuatan sosial masyarakat Ambon.
“Pembangunan tidak hanya membutuhkan jalan yang baik, gedung yang megah atau teknologi yang modern. Pembangunan juga membutuhkan kepercayaan, persaudaraan, toleransi, kedamaian dan kebersamaan,” tutur Bodewin.









