Milton Friedman mengingatkan: “One of the great mistakes is to judge policies and programs by their intentions rather than their results.” Salah satu kesalahan besar adalah menilai kebijakan berdasarkan niat, bukan hasilnya. Niat baik tidak menggantikan perencanaan matang, tata kelola efektif, dan pengawasan ketat. Tanpa evaluasi berbasis bukti, program yang gagal dapat terus dipertahankan atas nama cita-cita mulia, sementara kritik terhadap hasilnya dianggap sebagai penolakan terhadap tujuan.
Krisis ini juga tampak pada lemahnya kemampuan memperhitungkan konsekuensi beberapa langkah ke depan—apa yang dapat disebut “actuarial intelligence”, yakni kecakapan membaca risiko dan mengantisipasi akibat keputusan. Kita bertindak seolah-olah keputusan berakhir ketika kebijakan ditetapkan dan kerusakan yang belum terjadi tak perlu diperhitungkan.
Padahal, keputusan hari ini menentukan biaya esok hari. Kerusakan lingkungan, pemborosan anggaran, kebijakan salah sasaran, dan kegagalan pembangunan kerap bukan kejutan, melainkan konsekuensi yang semestinya dapat diperkirakan. Kita baru sibuk menghadapi akibat ketika kesempatan mencegahnya telah berlalu.
Krisis penalaran etis lebih menggelisahkan. Ia bukan sekadar membuat kita salah mengambil keputusan, melainkan kehilangan kepekaan untuk mengenali ketidakpatutan, ketidakadilan, dan tindakan yang secara moral sulit dibenarkan.








