“Sejak April 2025 kami melakukan survei di Ohoi Sathean, Dunwahan, Letman, Letvuaan, Arso, dan Uf,” jelasnya.
Ohoi Uf Dinilai Paling Ideal Secara Teknis
Berdasarkan hasil survei tersebut, Ohoi Uf dinilai paling memenuhi kriteria karena kondisi lahan yang clear and clean serta elevasi wilayah yang mendukung pembangunan fasilitas pengeringan rumput laut.
“Luas bangunan fasilitas ini 210 meter persegi, dengan luas lantai 473 meter persegi. Di dalamnya tersedia 112 rak penjemuran indoor dan 112 rak penjemuran outdoor,” ungkap Ingratubun.
Selain itu, penerima manfaat proyek ditetapkan melalui mekanisme musyawarah dan aklamasi masyarakat Ohoi Uf. Dari proses tersebut, terpilih tujuh kelompok budidaya yang benar-benar menggantungkan hidup sebagai pembudidaya rumput laut dan nelayan utama.
Potensi Produksi dan Dampak Ekonomi Nyata
Ingratubun merinci, setiap kelompok menerima bantuan 16 tali long line dengan panjang masing-masing 50 meter. Dengan skema tersebut, potensi produksi diperkirakan mencapai 148.736 kilogram rumput laut basah atau sekitar 14.874 kilogram rumput laut kering per tahun, dalam delapan siklus panen.
“Dengan harga rumput laut kering saat ini sekitar Rp12 ribu per kilogram, maka total pendapatan tujuh kelompok ini bisa mencapai Rp178.483.200 per tahun, atau rata-rata Rp25.497.600 per kelompok,” paparnya.










