Ini Dia, Tiga Bajak Laut Perempuan Paling Terkenal di Dunia

oleh -62 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Bajak laut ternyata tidak hanya didominasi laki-laki. Ada beberapa bajak laut perempuan yang namanya tersohor, entah karena kepentingan menaklukkan negara atau karena memang ingin menjadi kaya raya dengan menempuh hidup sebagai bajak laut di samudra lepas.

Dari sekian banyak bajak laut, ada tiga bajak laut perempuan yang sangat terkenal dan ikonik. Dari China, ada Ching Shih alias Madame Cheng, disusul dari Irlandia, Grace O’Malley dan dari Andalusia, Sayyida Al Hurra.

Seperti apa kiprah mereka dalam catatan sejarah bajak laut terkenal di dunia? Melansir Ancient Origin, berikut ini ringkasannya:

1. Ching Shih, dari pelacur menjadi bajak laut

Ching Shih, seorang pelacur yang menjadi pemimpin bajak laut China yang berpengaruh.
Ching Shih, seorang pelacur yang menjadi pemimpin bajak laut China yang berpengaruh.

Dikenal dengan nama alias Madame Cheng, Ching Shih lahir pada tahun 1775 dan wafat pada 1844 Masehi. Ching Shih adalah satu dari sekian bajak laut yang paling sukses dalam sejarah.

Menurut sejarah, Shih pernah menjadi pelacur setelah suaminya yang juga bajak laut meninggal. Shih lalu mengambil alih “Armada Bendera Merah” suaminya yang begitu besar dan sukses.

Baca Juga  Pastikan Vaksin Covid-19 Aman Brimob Maluku Lakukan Pengamanan Dan Pengawalan Ketat

Shih menjadikan putra angkatnya, Cheung Po Tsai sebagai kapten armada sekaligus kekasihnya. Dengan bantuan putra angkatnya itu, mereka merampok dan membebankan pajak banyak kota di daerah pesisir.

Mereka menyerang kapal-kapal di Laut China Selatan, melawan negara-negara besar seperti kerajaan Inggris, Portugis dan Dinasti Qing.

Kekayaan juga kekejian mereka tumbuh seiring kendali mereka atas lebih dari 1.500 kapal dan 80.000 orang.

Pemerintah China akhirnya turun tangan dengan menawarkan amnesti bajak laut universal dengan imbalan perdamaian.

Shih menerima tawaran itu. Dia menjalani akhir-akhir hidupnya di Kasino dan rumah bordil. Dia meninggal pada umur 69 tahun.

2. Grace O’Malley, sang penjelajah Irlandia

Grace O’Malley lahir di Irlandia sekitar 1530 Masehi, putri seorang bangsawan kaya dan pedagang laut.

Setelah kematian ayahnya, dia mewarisi bisnis pengiriman dan perdagangan yang besar. Sejak hari-hari awalnya, dia menolak peran wanita abad ke-16, dan malah meniti kehidupan di laut dengan armada kapal dagangnya.

Baca Juga  Fast & Furious: Hobbs & Shaw Tayang Tula, 31 Juli 2019

Penghasilan dari bisnis ini, serta tanah yang diwarisi dari ibunya, memungkinkannya menjadi kaya dan berkuasa secara politik.

Grace memerintahkan ratusan orang dan sekitar 20 kapal dalam penggerebekan terhadap klan saingan dan kapal dagang.

Dia juga berselisih dengan pejabat pemerintah, yang berulang kali berusaha untuk mengekang aktivitasnya.

Pada usia 56 tahun, Grace O’Malley akhirnya ditangkap, tetapi dia mengajukan petisi kepada Ratu Inggris dan berhasil meyakinkannya untuk membebaskan dia dan keluarganya.

Kemungkinan besar, O’Malley meninggal di Rockfleet Castle sekitar 1603 Masehi.

3. Sayyida Al Hurra, tidak takut pada siapa pun

Sayyida Al Hurra
Sayyida Al Hurra

Sayyida Al Hurra lahir di Iberia, Spanyol pada tahun 1485 Masehi. Dia terkenal sebagai seorang bajak laut wanita di antara abad 15 dan 16.

Ayahnya, sang kepala suku, berasal dari keluarga bangsawan. Dia mendidik Sayyida Al Hurra dengan pendidikan terbaik. 

Baca Juga  Kapolda Terima Kunjungan Silaturahmi Pimpinan Muslimat NU Maluku

Al Hurra juga telah belajar teologi, bahasa dan matematika di masanya. Al Hurra, adalah gelar yang dinisbatkan pada wanita bajak laut itu, yang berarti mulia, bebas dan mandiri.

Al Hurra juga berarti bahwa Sayyida adalah wanita yang tidak tunduk pada otoritas mana pun.

Dia menjadi bajak laut Muslimah di dunia karena tak ingin melupakan jatuhnya Granada dan bersumpah akan membalas kekalahannya, merebut kembali Andalusia dari orang-orang Kristen.

Meskipun dia tidak bisa menghadapi Spanyol dan Portugis secara langsung, dia mampu mendatangkan malapetaka pada perdagangan laut dua negara itu melalui pembajakan.

Meski pun dia dibenci oleh musuh-musuh Eropa, Sayyida Al Hurra jatuh sebab digulingkan oleh orang dalam. Dia digulingkan oleh menantu laki-lakinya yang kemudian melucuti properti juga kekuasaan Al Hurra.

(red/kompas.com)