Berdasarkan laporan kantor berita Fars, layanan asuransi ini ditawarkan untuk kapal yang beroperasi di Selat Hormuz dan kawasan Teluk sekitarnya, dengan potensi pendapatan mencapai lebih dari 10 miliar dolar AS per tahun.
Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi Iran dalam mengelola sekaligus memonetisasi jalur pelayaran tersebut, di tengah tekanan konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel sejak Februari 2026.
Skema Asuransi Picu Perdebatan
Platform bernama Hormuz Safe dilaporkan mulai menawarkan perlindungan asuransi maritim lengkap dengan sistem verifikasi terenkripsi. Seluruh transaksi dirancang menggunakan mata uang kripto, termasuk Bitcoin.
Perlindungan disebut akan aktif setelah konfirmasi diterima, sementara pemilik muatan akan memperoleh dokumen resmi sebagai bukti jaminan.
Namun, skema ini memicu perdebatan di kalangan industri pelayaran internasional. Banyak pihak menilai program tersebut sebagai bentuk lain dari pungutan transit, meskipun Iran menyebutnya sebagai layanan manajemen risiko berbasis asuransi komersial.
Sebelumnya, Iran juga dilaporkan telah menarik biaya tidak resmi hingga 2 juta dolar AS per perjalanan dari sejumlah kapal komersial pada awal konflik. Kebijakan tersebut kemudian berkembang menjadi skema yang lebih terstruktur.











