Ia menambahkan, jika Iran tidak menerima kondisi saat ini, AS akan meningkatkan serangan dengan skala yang lebih besar.
Leavitt juga mengungkapkan bahwa sejumlah negara seperti Pakistan, Turki, dan Mesir tengah berupaya menjadi mediator dalam proses gencatan senjata. “Pembicaraan terus berlanjut dan produktif,” katanya.
Media Iran Ikut Ejek Trump
Di tengah ketegangan diplomatik, media Iran turut melancarkan serangan simbolik. Harian konservatif Javan memuat karikatur Donald Trump sebagai tokoh Pinokio dengan hidung panjang, sebagai sindiran terhadap dugaan kebohongan Washington.
Karikatur tersebut menampilkan hidung panjang Trump menjulang di atas peta Selat Hormuz, dengan judul “Pembohong paling menyedihkan dan tidak terhormat di dunia”.
Media lain seperti Tasnim dan Sobh-e No juga ikut menyindir Trump, menuduhnya menggunakan “politik kebohongan” di tengah perang.
Propaganda dan Perang Narasi
Kantor berita ISNA bahkan menyebut Zolfaghari sebagai “fenomena perang” yang aktif tampil di media, menyampaikan pesan dalam berbagai bahasa.
Dalam salah satu pernyataannya, Zolfaghari juga mengejek langsung Trump dengan mengadopsi jargon khasnya, “Trump, you’re fired!”
Ketegangan antara Iran dan AS kini tidak hanya terjadi di medan militer dan diplomasi, tetapi juga meluas ke perang narasi di media. Hingga kini, kedua pihak masih saling klaim terkait negosiasi, sementara jalur menuju gencatan senjata tetap belum menunjukkan titik terang. (red)









