Israel dan Kasebul

oleh -856 views

Saya juga di-komplain karena ‘orang-orang saya’ berangkat juga ke Israel, tapi kok tidak saya kritik? Kok cuma NU yang dikritik?

Terus terang saya agak terperangah dengan tudingan itu. Bukan maksud saya merendah untuk meninggikan diri. Saya selalu merasa, apalah saya ini.

Komunitas Kasebul yang dimaksud, tidak pernah saya kenal. Bagaimana kenal? Wong organisasinya tertutup. Saya bisa menduga orang-orang yang pernah dilatih disana. Umumnya sekarang sudah sepuh. Generasinya Harry Tjan Silalahi, Jusuf dan Sofjan Wanandi. Komunitas ini sebenarnya tidak pernah ada sebagai komunitas. Karena kabarnya setelah menjalani Kasebul, mereka melupakannya sama sekali.

Saya sendiri kemudian meraba-raba bahwa komunitas ini sebenarnya sudah punah. Saya tidak tahu persis. Tapi Kasebul tidak pernah jadi kekuatan politik yang nyata. Nama Kasebul sendiri tidak bisa dikatakan kaderisasi karena yang dicetak bukan kader. Sebagian produknya bekerja untuk Opsus (Operasi Khusus)-nya Ali Moertopo. Dan kita tahu bahwa Opsus ini disikat habis oleh Soeharto pada tahun 1980an.

Kita tidak tahu kepada siapa para anggota Kasebul ini mengabdi. Mereka tidak terkontrol. Tidak ada polit biro seperti di Partai Komunis, misalnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.