Israel dan Kasebul

oleh -845 views

Namun keruntuhan terbesar Kasebul, menurut informasi yang saya dapat, datang dari dalam Gereja Katolik sendiri. Banyak imam dan uskup yang mengeluhkan kader-kader yang masuk ke paroki-paroki dan wilayah keuskupan, kemudian menyebar intrik-intrik politik. Mereka menyuruh orang-orang Katolik untuk memilih Golkar dan mendukung Orde Baru. Sementara, saat itu (pada awal 1970an) Partai Katolik masih kuat berakar dalam gereja.

Penolakan dari dalam itu yang turut membuat pengaruh kelompok ini merosot. Sementara kehadiran mereka juga tidak lagi bisa dijustifikasi. Kasebul adalah gerakan anti komunis. Setelah ‘tumpas kelor’ Soeharto dan militer Orde Baru terhadap orang-orang Komunis, apa lagi yang menjustifikasi kehadiran Kasebul?

Kasebul diciptakan untuk membentengi Gereja Katolik jika Komunis berkuasa. Ketika Komunis kalah, orang-orang yang dilatih ini kemudian sulit dikendalikan. Mereka mengejar kepentingannya sendiri, yang tidak jarang bertabrakan dengan kepentingan Gereja. Alih-alih melindungi Gereja, kerapkali mereka menjadi sumber kisruh didalam gereja.

Baca Juga  Resmikan Pustu Wirin, Bupati Malra Minta Pelayanan Konsisten dan Humanis

Saya sendiri tidak pernah dilatih kaderisasi ala Kasebul. Saya pikir, saya tidak akan tahan dan akan dikeluarkan pada hari pertama. Sama seperti saya dulu dikeluarkan dari Asrama, yang uniknya didirikan oleh pendiri Kasebul, Pater Beek, SJ. Saya ingat persis alasan Romo yang menjadi direktur saat itu ketika memecat saya dari asrama: kepribadian saya tidak berkembang. Dan sampai saat ini saya sangat menghargai alasan itu. Mengapa? Kepribadian saya memang sama sekali tidak berkembang. Dan, itu tidak soal untuk saya sedikit pun. Saya akan susah kalau kantong saya tidak berkembang. Minimal berkembang cukup untuk menopang hidup saya. Ingat, cukup. Artinya bisa bermacam-macam.

No More Posts Available.

No more pages to load.