Menurut Batu, waktu serangan Israel menjadi signifikan karena terjadi setelah munculnya Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah, sebuah pakta yang melibatkan Turki, Arab Saudi, dan Pakistan dengan konsep pencegahan kolektif.
Kehadiran aliansi tersebut dinilai dapat mengubah kalkulasi strategis Israel di Timur Tengah. Tel Aviv disebut tidak nyaman dengan keterlibatan Arab Saudi dalam konfigurasi keamanan yang juga melibatkan Turki dan Pakistan.
“Israel ingin memberi sinyal bahwa perjanjian itu tidak akan menghalanginya,” kata Batu.
Selain pengaruh politik dan militernya di Suriah, perkembangan pesat industri pertahanan Turki menjadi faktor lain yang memperkuat posisi Ankara.
Turki kini menjadi salah satu produsen utama drone militer dunia. Setelah keberhasilan platform seperti Bayraktar TB2, industri pertahanan negara itu terus mengembangkan berbagai sistem tempur baru, termasuk drone tempur Bayraktar Kizilelma dan ANKA III.
Ankara juga tengah mengembangkan jet tempur generasi kelima KAAN yang diproyeksikan mulai beroperasi secara bertahap pada 2029.
Bagi Israel, kemajuan teknologi militer Turki tersebut berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan udara di kawasan.
“Hal ini memberikan potensi bagi Türkiye untuk menjadi kekuatan udara terdepan di kawasan dan akan menghadapkan Israel pada realitas regional yang belum pernah mereka alami sebelumnya,” kata Batu.











