Dengan kata lain, fokus KPK bisa bergeser: dari penerima yang sudah tiada, ke pemberi yang masih hidup. Apalagi, posisi Haji Robert sebagai bos tambang besar di Halmahera membuat dugaan suap ini sarat implikasi politik dan ekonomi
Jalan Panjang Asset Recovery
Selain menelusuri motif suap, KPK juga berkepentingan memulihkan aset. Dana Rp5,5 miliar yang disebut mengalir ke AGK dan keluarganya berpotensi ditarik kembali untuk negara, bila terbukti terkait tindak pidana korupsi.
Di sinilah tantangannya. KPK harus memverifikasi bukti transfer, mengonfirmasi saksi-saksi tambahan, dan memastikan ada keterkaitan langsung antara uang dari Haji Robert dengan kewenangan AGK sebagai gubernur. Tanpa itu, klaim “pinjaman bisnis” bisa tetap bertahan.
Sinyal yang Kuat
Pernyataan singkat KPK sore itu sebenarnya sinyal yang kuat: kasus AGK belum benar-benar berakhir. Dugaan suap Rp5,5 miliar dari Haji Robert bisa menjadi pintu masuk bagi babak baru penyidikan.
Pertanyaan berikutnya: apakah KPK berani menjerat sosok berpengaruh di Maluku Utara itu dengan status hukum baru? Publik kini menunggu, sembari menyimak jejak-jejak uang yang masih hangat di persidangan. (Tim)
Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel porostimur.com









