Porostimur.com, Langgur — Sudah sepuluh bulan Jembatan Rumadian–Diann ambruk sejak 11 Maret 2025. Namun, hingga hari ini, warga setempat masih menunggu langkah nyata Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku untuk memperbaiki satu-satunya akses vital di kawasan itu.
Ronald Toatubun, aktivis Pemuda Katolik Komisariat Daerah Maluku, menilai Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa “tebang pilih” dalam menyelesaikan persoalan infrastruktur yang menyangkut hidup masyarakat di Jazirah Tenggara.
“Sudah 10 bulan jembatan itu rusak, tapi Pak Gubernur seperti acuh tak acuh. Hanya janji, namun tanpa realisasi,” ungkap Ronald, Selasa (9/12/2025).
Warga Menanti Penjelasan
Menurut Ronald, Pemprov seharusnya memberikan kepastian informasi. Baik soal kendala teknis, pembiayaan, maupun faktor lain yang membuat perbaikan belum dilakukan.
“Kalau memang ada kendala, Pemprov atau Dinas terkait—yakni PUPR Maluku—harusnya memberikan edukasi agar masyarakat memahami,” terangnya.
Ia menegaskan, kerusakan jembatan tersebut tidak hanya memutus konektivitas dua ohoi (desa), tetapi juga berdampak pada aktivitas dua kecamatan dan puluhan ohoi lain yang bertumpu pada jalur itu.
“Jembatan ini bukan sekadar penghubung dua desa saja, namun menjadi tumpuan harapan masyarakat luas. Tapi justru tidak menjadi fokus perhatian Pemprov,” kesalnya.









