Total 16 orang tewas dalam tragedi tersebut, termasuk Sajid Akram.
Di tengah-tengah penembakan, Ahmed muncul dan menghadapi salah satu penyerang dan merebut senapannya.
Berbicara kepada wartawan setelah bertemu Ahmed, PM Albanese mengatakan tindakan “sang pahlawan” mencerminkan nilai-nilai bangsa dan mengirimkan pesan persatuan yang kuat dalam menghadapi teror.
“Kita adalah negara yang berani. Ahmed Al Ahmed mewakili yang terbaik dari negara kita,” kata Albanese. “Kita tidak akan membiarkan negara ini terpecah belah. Itulah yang diinginkan teroris. Kita akan bersatu, kita akan saling merangkul dan kita akan melewati ini,” imbuh dia.
Meskipun terkena beberapa peluru dan berjuang melawan rasa sakit, sang pahlawan, yang berusia 40-an tahun, dilaporkan mengatakan kepada pengacara migrasinya, Sam Issa, bahwa dia akan melakukannya lagi.
“Dia tidak menyesali apa yang telah dilakukannya,” kata Issa kepada The Age, setelah mengunjungi Ahmed di Rumah Sakit St George di Kogarah.
“Dia mengatakan akan melakukannya lagi. Tetapi rasa sakit mulai membebaninya. Dia sama sekali tidak sehat. Tubuhnya penuh dengan luka tembak. Pahlawan kita sedang berjuang saat ini,” imbuh pengacara itu.
Ahmed menderita beberapa luka, terutama di lengan kirinya, dengan satu peluru bersarang di tulang belikat kirinya yang belum dikeluarkan. Pengacaranya menyatakan kekhawatiran bahwa Ahmed mungkin kehilangan lengan kirinya karena parahnya luka-luka tersebut.











