Oleh: Fridolin R. Kwalomine, Pendeta Gereja Protestan Maluku (GPM) dan sosiolog
Dari Labuha, di Pulau Bacan, bentrok Matraman tampak hanya sebagai sepotong berita: jalan yang mencekam, massa yang beringas, kendaraan yang rusak, dan seorang manusia yang kehilangan nyawa. Namun jarak sering kali membuat sesuatu terlihat lebih jernih. Yang sesungguhnya sedang kita saksikan bukan sekadar benturan antarkelompok, melainkan retaknya salah satu fondasi paling penting sebuah bangsa: kepercayaan sosial.
Setiap bangsa dibangun oleh dua jenis infrastruktur. Yang pertama dapat dilihat—jalan raya, pelabuhan, gedung, jaringan internet, dan kawasan industri. Yang kedua tidak kasatmata—kepercayaan, rasa aman, kesediaan hidup berdampingan, serta keyakinan bahwa setiap persoalan dapat diselesaikan melalui hukum, bukan melalui amarah. Infrastruktur pertama dapat dibangun dengan anggaran negara. Infrastruktur kedua hanya dapat dibangun melalui peradaban.
Bentrok Matraman memperlihatkan bahwa kita mungkin berhasil mempercepat pembangunan fisik, tetapi belum tentu berhasil memelihara pembangunan sosial.
Thomas Hobbes, lebih dari tiga abad lalu, mengingatkan bahwa ketika hukum kehilangan kewibawaannya dan rasa saling percaya runtuh, manusia mudah kembali pada keadaan yang disebutnya sebagai bellum omnium contra omnes—perang semua melawan semua. Dalam situasi demikian, orang tidak lagi melihat sesamanya sebagai warga negara yang memiliki martabat yang sama, melainkan sebagai ancaman yang harus ditaklukkan.









