Kabinet Konoha

oleh -5 Dilihat

Oleh: Yudi Latif, Pemikir Kebangsaan

Presiden mengganti menteri seperti mengganti bidak catur yang dianggap salah langkah. Satu dicopot, satu dipanggil; yang kemarin dipuji, hari ini disingkirkan. Bahkan Purbaya—yang sebelumnya digemakan seolah jawaban atas krisis fiskal—ikut terseret dalam arus pergantian.

Begitulah pemerintahan ini bekerja: bukan dengan peta yang jelas, melainkan tambal sulam; bukan dengan kompas yang mantap, melainkan firasat.

Menteri boleh berganti, kursi berpindah tangan, wajah baru membawa janji lama. Tetapi kekacauan tak ikut berganti. Ia menetap di dalam sistem. Sebab persoalannya bukan semata siapa yang duduk di kursi, melainkan ke mana kursi itu diarahkan.

Agenda dan mimpinya besar, tetapi integritas, konsistensi, dan kapasitas direktifnya rendah.

Baca Juga  Pimpin Sertijab Sejumlah Jabatan, Kapolres Malra Tekankan Integritas dan Loyalitas

Lebih problematis, lingkaran dalam kekuasaan hidup dalam kultur “asal bapak senang”: kabar buruk disaring, kritik diperlunak, keberhasilan dibesar-besarkan, kegagalan dicarikan pembenaran. Pemimpin akhirnya bukan kekurangan informasi, melainkan kekurangan kebenaran yang sampai.

Dalam situasi demikian, kebijakan menjadi seni menebak kehendak. Loyalitas lebih mudah dihitung daripada kompetensi; kesalahan hari ini dikoreksi besok tanpa pernah menjadi pelajaran. Pemerintahan tampak sibuk, tetapi negara kehilangan tujuan yang terang.

No More Posts Available.

No more pages to load.