Kedua, untuk menjadi pemimpin, apalagi pemimpin negara besar seperti Indonesia yang menganut sistem demokrasi, perlu emosi yang stabil dari seorang pemimpin. Pressure rakyat yang akan dihadapi oleh presiden jauh lebih besar dan kuat dari sekedar pertanyaan dan serangan lawan debat. Kalau menghadapi pertanyaan lawan debat saja tidak siap, bagaimana menghadapi kritik tajam mahasiswa dan cacian para oposan?
“Tidak terbang dalam pujian, dan tidak tumbang dalam cacian”. Ini yang harus dijadikan sebagai salah satu prinsip dalam leadership. Stabilitas mental sangat dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Tanpa memiliki stabilitas mental dan emosi, ini akan sangat berbahaya bagi seorang presiden. Sebab, presiden punya instrumen negara yang bisa dengan mudah melayani kepentingan emosinya.
Dalam debat perdana, Prabowo terlihat sangat emosinal. Seolah ini mengkonfirnasi persepsi publik selama ini bahwa Prabowo adalah sosok yang sangat emosional. Persepsi ini semakin kuat ketika Prabowo mengumbar kata-kata yang tidak sepatutnya diucapkan pasca debat. Yaitu kata “Ndasmu”.
Pidato Prabowo ini blunder. Secara politik, ini dapat menggerus simpati publik. Jubir Prabowo akan kesulitan untuk menjelaskan kata “Ndasmu” sebagai konotasi guyonan. Sangat sulit. Tapi nampaknya akan terus dipaksakan untuk mengklarifikasinya. Upaya yang dilakukan oleh para jubir untuk membenarkan dan memberi dukungan terhadap pidato Prabowo akan justru menambah blunder yang semakin besar.








