Setiap hari aku bertanya padanya akan hal yang sama dan jawabannya selalu sama “Hanya partner kopi” aku selalu mencoba menerima jawaban yang dituturkannya tapi tidak pernah dapat kuterima dikarenakan sekarang mereka lebih dekat dibanding denganku.
Pernah sewaktu di jalan aku pulang dari kampus dengan temanku, aku melihat dia dan partner kopinya itu berboncengan sambil berpelukan di motor. Apakah itu pantas disebut teman? Tapi aku masih saja memakluminya. Hingga disaat hubungan kami masuk bulan ke-7 aku memaksakan diri untuk menyudahi hubungan pacaran yang sudah tidak jelas lagi keadaannya. Dia bahkan melupakan kabar yang sangat penting, yang dari awal kami memulai hubungan sudah berkomitmen untuk tidak melupakan kabar. Dia lebih memilih akan perempuan yang baru dikenalnya dan satu basic dengan dia akan kopi.
Pagiku uring-uringan dihadapi dengan pilihan, mau mengulang kembali cerita lama yang bahkan aku sudah tau akhir dari cerita lama itu. Untuk membuka lembaran baru yang kita belum tahu bisa atau tidak merubah keadaan yang dulunya buruk menjadi baik saja aku tidak yakin akan hal itu.
Mungkin nanti rasanya tidak akan sama lagi, aku hanya sedang menunggu Tuhan untuk merubah perasaanku meski yang aku inginkan Dia mengubah keadaannya. Dan mungkin ini bukan tentang sebuah doa, tapi bagaimana aku terlatih untuk menunggu jawabannya dengan seiring belajar untuk mendewasakan hatiku. Membuat aku bisa mencoba menerima bahwa hal yang aku anggap baik untukku belum tentu baik untuk Hatiku dan untuk Tuhan.









