2 bulan kemudian, hubungan kami semakin baik. Aku pun merasa tidak akan terjadi toxic relationship atau semacamnya. Pada saat acara natal tiba, aku menjadi salah satu panitia di acara natal tesebut. Aku datang bersamanya, dengan senang hati aku mengenalkan dirinya untuk pertama kalinya ke hadapan teman-temanku. Hingga pada saat penutupan acara dia selalu disampingku dan ia berkata “Kamu cantik untuk Tuhan hari ini” dan aku tersenyum sembari mengucapkan Terimakasih untuknya. Sepulang dari acara tersebut, dia izin untuk pamit setelah mengantarku pulang.
Hal-hal indah yang sederhana selalu kami jalani, hingga pada suatu waktu hubungan kami memasuki bulan ke-6 terjadi sesuatu hal yang menyebabkan kerenggangan dikarenakan orang ke-3. Aku tidak tahu dan mengerti akan hal itu, dia tiba-tiba berubah menjadi dingin dan sedikit mengabaikanku. Pada saat itu aku berfikir Dia sedang sibuk akan tugas dan pekerjaannya dan aku memaklumi akan hal itu. Lambat laun dia semakin berubah dan semakin cuek, dan kami sering berdebat dikarenakan dia yang selalu saja sibuk dengan kesibukannya yang aku tidak tahu kegiatan apa yang dia lakukan.
Pada saat aku dan teman-temanku bermain ke coffe shop miliknya, aku sedikit tidak menyangka dia memiliki partner perempuan di coffe shop-Nya yang kedekatan mereka cukup dibilang lebih dari teman. Dia tidak pernah memberitahu padaku bahwasanya dia memiliki partner perempuan. Aku langsung mendatanginya dan memberinya salam tak lupa ia menyambut salamku. Aku bertanya kepadanya “Siapa perempuan itu?” ia menjawab “Partner rekan kopiku”. Aku tak bisa mengerti kenapa harus perempuan dengan kedekatan yang tidak bisa dibilang hanya teman saja. Bahkan mereka berpegangan tangan di depanku, hanyan dengan alasan mengajari membuat Late Art. Sungguh alasan yang sangat tidak masuk akal pikirku sambil tersenyum ke arah mereka.









