Kanjeng Doktor

oleh -5 Dilihat

Selain itu harus diakui bahwa ada masalah besar di dunia akademik Indonesia. Seorang akademisi mengaku kepada saya bahwa makin lama universitas semakin menjadi pabrik gelar. Mutu akademik merosot secara kualitas walaupun kalau diukur dengan metrik-metrik standar memperlihatkan kemajuan. Menulis di jurnal, misalnya, untuk Indonesia indeksnya lumayan tinggi.

Dunia akademik juga menjadi terbirokratisasi. Orang harus lolos jenjang tertentu untuk bisa naik pangkat. Namun disisi yang lain, ada juga ekstrim seperti yang ditunjukkan oleh kurikulum Merdeka saat ini. Jika Anda menang Indonesian Idol, misalnya, Anda berhak lulus 20 SKS.

Dunia akademik adalah dunia berpikir. Dunia dimana penghuninya berusaha mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ia mengerti dan berusaha menemukan jawabannya.

Baca Juga  UU Reforma Agraria Disahkan, Saadiah Uluputty Soroti Persoalan Tanah dan Hak Masyarakat Adat Maluku

Selain itu, akademia itu melatih orang berpikir. Bukan bekerja. Sekalipun dunia saat ini adalah dunia “mechanic reason” (meminjam Benjamjn), tetap saja intinya adalah reasoning alias berpikir. Akademia adalah tempat mengolah pemikiran, mengadu gagasan, dan membangun pemahaman yang lebih baik.

Di belahan dunia lain, program S3 itu dilakukan untuk mendidik dua profesi: dosen dan peneliti. Di Amerika, sebagian besar mahasiswa S3 tidak membayar. Mereka dibeayai universitas atau pihak luar. Pada hakekatnya program S3 adalah sebuah program apprenticeship atau magang. Ada dosen yang melamar grant untuk sebuah proyek penelitian. Grant ini cukup besar untuk membeayai beberapa mahasiswa PhD. Dia merekrut mahasiswa PhD yang akan menjadi asisten penelitinya dan bersama-sama menulis di jurnal atau menulis buku.

No More Posts Available.

No more pages to load.