Kanjeng Doktor

oleh -5 Dilihat

Program magang ini perlu waktu yang lumayan lama dan baik dosen maupun mahasiswa saling belajar. Kadang memang ada konflik antara keduanya. Itu biasa sebagai manusia.

Memang ada perbedaan konsep yang sangat besar antara dunia akademik Indonesia dengan di negara-negara luar, khususnya di Barat dimana tradisi ini dikembangkan.

Namun, dalam pengamatan saya, saling sengkarut dunia akademik Indonesia ini lebih banyak melanda mereka yang belajar ilmu-ilmu sosial dan agama. Banyak orang berpikir bahwa dua ilmu ini paling mudah mendapat gelar. Orang hanya perlu menulis. Penelitian pun hasilnya tidak pasti. Kadang menyimpulkan hal tidak jelas dengan indikator yang juga tidak jelas.

Seperti disertasi Bahlil yang “menemukan” bahwa hilirisasi tidak mendatangkan manfaat untuk penduduk lokal. Kita tidak tahu apakah ketidakuntungan ini ada pada level persepsi atau ada indikator lain?

Kalau saja Bahlil menulis disertasi tentang daun Simbukan (daun kentut) bisa menumbuhkan rambut, tentu bisa diuji. Dia perlu beberapa lusin orang botak yang kepalanya diolesi daun Simbukan. Dia juga perlu beberapa orang botak sebagai kontrol pertumbuhan rambutnya tanpa daun Simbukan. Hasilnya bisa diukur. Kandungan kimia daun Simbukan bisa dianalisis dan mengapa daun ini bisa menumbuhkan rambut, itu harus dijelaskan. Tidak hanya sekedar mengukur orang botak dengan kontrolnya itu. Itu pekerjaan anak SMK, bukan seorang mahasiswa doktoral.

No More Posts Available.

No more pages to load.