Kebisingan di Tengah Kemiskinan Moral

oleh -163 views
Link Banner

Oleh: M. Hasan Bahta, Pemuda Maluku

Hari-hari ini, publik Maluku kembali dihebohkan dengan beredar sebuah video adu mulut antar seorang ibu versus Murad Ismail, gubernur Maluku. Video berdurasi 30 menit itu menerangkan sang gubernur melengking suaranya seolah membentak ibu tersebut. Tanpa takut, tongka pinggang wanita itu pun nampak menantang balik sang gubernur lantas terdengar sorak-sorai warga di sekitar yang sempat menyaksikan peristiwa itu.

Dalam video itu, warga justru mendukung sikap ibu tersebut, selain bersorak warga juga serempak tepuk tangan tanda mengakui keberanian ibu yang memakai baju garis-garis lengan panjang itu.

Meskipun tak jelas apa sebabnya terjadi peristiwa yang memalukan di tengah masyarakat itu, sikap gubernur Murad yang demikian tetap tak dapat dibenarkan. Memperlakukan seorang ibu – dengan sangat tidak sopan dengan sombong pula.

Peristiwa murahan ini bukan kali pertama, sebelumnya sang gubernur pernah mengeluarkan kata-kata najis berupa cacian dengan dialek khas Ambon. Sering emosi seperti ini menunjukkan moralitas Murad sebagai pejabat publik sirna dan surut total.

Baca Juga  Kapolri Sebut Kebijakan Larangan Mudik untuk Lindungi Masyarakat

Arogansi Murad yang berulangkali itu, bahkan tertular kepada ajudannya, sehingga pernah aniaya pegawai bandara. Jauh sebelum itu, anaknya pun pernah berlaku arogan hingga menyebabkan dia dipecat dari pendidikan di institusi kepolisian.

Perilaku Murad ini terhubung kategori dosa-dosa sosial sebagaimana yang pernah dikemukakan tokoh besar India, Mahatma Gandhi.

Salah satu dosa sosial menurutnya adalah politik tanpa prinsip (politics without principle). Politik seperti ini mengesampingkan etika dan moral. Maka mereka terlihat seperti main sikut kanan-kiri, pamer wajah, menjilat ke atas, menginjak ke bawah untuk kepentingan diri sendiri dan demi meraih kekuasaan dan kesenangan. Dan cenderung menghalalkan segala cara sehingga tidak ada batasan mana yang etis dan tidak etis.

Baca Juga  Prediksi Arsenal vs Manchester City Liga Inggris: Meriam London Melempem, The Citizens Tanpa Cacat

Watak arogan seperti ini pernah ditampilkan Donald Trump selama memimpin Amerika, mengundang rasa kesal publik di sana, mereka marah, tapi kemarahan itu disimpan hingga pemilu berikutnya, hasilnya Trump gagal pimpin negeri Paman Syam itu di periode kedua. Selihai apapun seorang politisi. Seberapa pun tinggi kekuasaannya. Sekuat apapun dukungan awalnya. Sekali melanggar hukum, ia segera menggali kuburnya sendiri.

Semakin sering menunjukkan sikap tak terpuji itu menimbulkan rasa pesimis masyarakat terhadap pemerintah saat ini, seolah-olah rakyat adalah musuhnya, padahal sebenarnya dia dipilih untuk melayani rakyat: mencerdaskan dan mensejahterakan rakyatnya. Sebagaimana cita-cita politik yakni usaha menggapai kehidupan yang baik. Di Indonesia kita
teringat pepatah “gemah ripah loh jinawi”. Orang Yunani Kuno terutama Plato dan Aristoteles menamakannya sebagai en dam onia atau the good life

Tanpa disadari, seluruh rentetan perilakunya itu sebagai jalan menuju kehancuran karir politiknya. Semakin dia arogan, semakin dijauhi masyarakat. Tentu masyarakat Maluku tak menghendaki nasib buruk para pemimpin arogan seperti Fir’aun, bahkan yang terbaru Trump juga melanda seorang Murad.

Baca Juga  Musisi Dunia Sepakat Musik pada Kampanye Harus Berizin

Maluku, selama kepemimpinan Murad nyaris tak ada terobosan yang signifikan terhadap kemajuan dan kesejahteraan rakyat. Murad justru lebih sering menonjolkan arogansi ketimbang prestasi, memamerkan kesombongan di tengah kerendahan cipta dan karya.

Murad lebih menampilkan kebingungan dalam memimpin daripada keseriusannya dalam mewujudkan janji-janji politiknya. Murad bikin masyarakat kehilangan pegangan, tak banyak berharap, sejurus rakyat merasa sial dipimpin sosok seperti ini.

Sebagai masyarakat Maluku kita do’akan semoga ada hidayah ketenangan jiwa merasuki Murad sehingga di sisa kepemimpinannya setidaknya tidak lagi menampilkan aksi-aksi memalukan seperti yang sudah-sudah. (*)