Kekerasan, Baik Fisik Maupun Verbal, Tetaplah Kekerasan

oleh -476 views

Saya juga ingat bagaimana pada akhir tahun 1990an, terjadi fenomena yang baru dalam demonstrasi dan oposisi terhadap penguasa.

Pada tahun 1960an hingga 1980an, demo-demo diorganisir dari kampus-kampus besar dan prestisius Indonesia. Ia melibatkan kaum akademisi dan intelektual. Arief Budiman menggambarkannya sebagai peran “begawan” kaum intelektual, yakni kaum intelektual turun dari menara gadingnya ketika terjadi krisis yang melanda masyarakat. Kalau keadaan normal, begawan ini akan kembali ke kampus.

Mitos “begawan” itu masih tetap hidup bahkan sampai saat ini. Namun kenyataan berbicara lain. Para elit demonstran ini, beberapa lama setelah berdemo, entah berhasil atau tidak menumbangkan penguasa, segera masuk ke dalam sistem politik. Mereka menjadi politisi, penguasa, atau pengusaha dengan kontrak-kontrak gemuk, atau kemudian menjadi elit intelektual yang suaranya diperhatikan dengan takzim sekalipun mereka berhenti berpikir.

Baca Juga  Fraksi Demokrat DPRD Sula Koordinasi dengan ESDM Malut, Warga Terima Listrik Gratis

Awal tahun 1990an memperlihatkan dekadensi kampus-kampus elit Indonesia. Para akademisinya menjadi teknokrat-teknokrat yang melayani rezim penguasa. Para mahasiswanya mulai berubah — mereka berasal dari keluarga-keluarga kelas menengah PNS atau ABRI. Tentu sebagian besar mereka menjadi pro-status quo. Mereka lebih tertarik pada karir daripada politik. Inilah jaman ketika menjadi insinyur seperti Habibie atau menjadi MBA menjadi sangat prestisius.

No More Posts Available.

No more pages to load.