Pemerintah Israel sendiri membantah tudingan bahwa mereka mengabaikan persoalan tersebut. Para pejabat Israel menyatakan kekerasan dan rasisme terhadap komunitas Kristen dipandang serius dan akan ditindak.
Namun, para pemimpin gereja menilai pernyataan tersebut belum sebanding dengan kenyataan di lapangan.
Mereka mengatakan pengaduan atas serangan terhadap umat Kristen kerap hanya menghasilkan sedikit tindakan nyata. Situasi itu, ditambah kekerasan yang terus berlangsung, ekspansi permukiman dan meningkatnya permusuhan politik, dikhawatirkan semakin mendorong komunitas Kristen meninggalkan Yerusalem dan wilayah Palestina.
Kekhawatiran tersebut menjadi semakin serius karena komunitas Kristen Armenia dan komunitas Kristen lainnya merupakan bagian dari sejarah panjang kehidupan keagamaan di Tanah Suci.
Bagi para pemimpin gereja, jika kekerasan dan intimidasi terus dibiarkan, bukan hanya keamanan umat Kristen yang terancam, tetapi juga keberadaan komunitas-komunitas Kristen yang telah berakar di kawasan tersebut selama berabad-abad.
sumber: sindonews









