“Umat Kristen saat ini secara rutin dihantam, diludahi, dipukuli,” kata Kepala Biara Dormition Abbey, Nikodemus Schnabel, kepada media tersebut.
Menurut Schnabel, persoalan tersebut bukan sekadar ulah individu yang menyimpang.
“Ini bukan kasus satu jiwa yang tersesat,” ujarnya, sembari menyebut banyak insiden serupa tidak pernah tercatat atau terdokumentasi.
Data Rossing Center yang berbasis di Yerusalem menunjukkan jumlah insiden yang dilaporkan hampir berlipat ganda antara 2023 dan 2025. Tren tersebut bahkan diperkirakan kembali mencapai rekor baru tahun ini.
Pemerintah Netanyahu Dituding Membiarkan Ekstremisme
Meningkatnya serangan tersebut juga memicu kritik terhadap pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Para pengkritik menilai kelompok ekstremis semakin berani karena merasa mendapat ruang dari pemerintahan sayap kanan Israel, termasuk dari pejabat senior seperti Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir.
Nama Ben-Gvir menjadi sorotan karena pernyataannya terkait praktik meludahi pendeta dan umat Kristen.
Dalam wawancara radio pada 2017, Ben-Gvir pernah menyebut tindakan meludahi pendeta dan gereja sebagai “tradisi Yahudi kuno” serta mempertanyakan mengapa tindakan tersebut harus dianggap sebagai tindak pidana.
Pada 2023, setelah menjadi menteri yang bertanggung jawab atas penegakan hukum, ia kembali menyatakan bahwa meludahi orang Kristen “bukanlah kasus kriminal”.









