Oleh: Anies Rasyid Baswedan, Ph.D
Dua malam lalu, turut hadir di forum Kenduri Cinta, di Plaza Teater TIM, Jakarta, forum terbuka, egaliter, dan tanpa sekat yang telah berlangsung lebih dari dua dekade. Kali ini istimewa, karena menjadi bagian dari peringatan Milad ke-72 Cak Nun, pendiri Maiyah.
Kami berdiskusi tentang banyak hal: tentang “angon” sebagai simbol kepemimpinan, tentang meritokrasi, tentang etika, dan tentang demokrasi yang sejatinya menjadikan rakyat sebagai pemilik, bukan sekadar penonton lima tahunan.
Malam itu, interaksi di forum ini adalah pengingat bahwa bangsa ini hanya bisa kuat bila dipimpin oleh mereka yang menjaga nilai, bukan hanya mengejar untung dan rugi. Karena etika, bukan oportunisme, yang seharusnya jadi kompas.
Kami juga mengajak semua untuk memaknai demokrasi bukan sekadar tentang menang dan kalah. Demokrasi adalah keberanian untuk hadir, bahkan saat kalah; untuk tetap hormat pada proses, dan terus terlibat membangun bangsa, bukan sekadar menyalahkan.
Kami percaya, bangsa ini bisa besar bila kepemimpinannya adalah kepemimpinan yang menggerakkan. Karena Republik ini lahir dari semangat gerakan, bukan semata-mata dari program. Maka, mari kita hidupkan kembali semangat itu: semangat untuk bergerak, untuk terlibat, untuk angon bareng-bareng menjaga arah Indonesia.









