Dalam kajian komunikasi politik, Cas Mudde dan Cristóbal Rovira Kaltwasser menjelaskan bahwa pemimpin populis sering menggunakan bahasa yang sederhana, emosional, dan konfrontatif untuk membangun kedekatan dengan pendukung. Strategi semacam ini memang dapat efektif dalam mobilisasi politik. Namun setelah seseorang menjadi presiden, publik juga berharap hadirnya bahasa yang mampu merangkul seluruh warga negara, termasuk mereka yang berbeda pandangan.
Demokrasi membutuhkan kritik. Demokrasi juga membutuhkan ketegasan. Akan tetapi, demokrasi tidak dapat tumbuh sehat apabila ruang publik lebih banyak dipenuhi ejekan daripada argumentasi. Ketegasan tidak identik dengan kekasaran. Wibawa tidak lahir dari penghinaan. Kepemimpinan yang matang justru tampak ketika mampu menjawab kritik dengan data, mengelola perbedaan dengan ketenangan, dan tetap menghormati martabat pihak lain.
Tulisan ini bukanlah ajakan untuk menghakimi Presiden Prabowo, sebagaimana juga tidak dimaksudkan untuk membenarkan setiap kritik yang ditujukan kepadanya. Tulisan ini adalah pengingat bahwa bahasa seorang presiden selalu memiliki makna yang melampaui dirinya sendiri. Ia menjadi teladan bagi pejabat, ditiru oleh pendukung, diamati oleh lawan politik, dan diserap oleh generasi muda sebagai standar komunikasi publik.









