Ketika Bahasa Presiden Kehilangan Keanggunannya

oleh -32 views
Ansori

Indonesia dibangun bukan hanya oleh kekuatan ekonomi, militer, atau pembangunan infrastruktur. Indonesia dibangun oleh kesediaan anak-anak bangsanya untuk hidup bersama di tengah perbedaan. Bahasa adalah jembatan yang menghubungkan perbedaan itu. Ketika jembatan tersebut mulai dipenuhi ejekan, pelabelan, dan penghinaan, yang terancam bukan hanya etika komunikasi, melainkan juga kepercayaan sosial yang menjadi fondasi persatuan.

Karena itu, menjaga keanggunan bahasa bukanlah perkara sopan santun semata. Ia adalah ikhtiar menjaga demokrasi, merawat persaudaraan kebangsaan, dan memastikan bahwa perbedaan pendapat tidak berubah menjadi permusuhan.

Pada akhirnya, sejarah akan lebih lama mengingat kata-kata seorang pemimpin daripada tepuk tangan yang mengiringinya. Yang dikenang bukan hanya kebijakan yang dihasilkan, tetapi juga bahasa yang digunakannya untuk menyatukan atau memecah bangsanya.

Baca Juga  Dharmayukti Karini Maluku Salurkan Beasiswa kepada 36 Putra-Putri Aparatur Peradilan

Indonesia memerlukan lebih banyak bahasa yang merangkul daripada melabeli, lebih banyak argumentasi daripada ejekan, dan lebih banyak keteladanan daripada kemarahan. Sebab bahasa yang santun bukanlah tanda kelemahan. Ia adalah tanda kedewasaan sebuah bangsa.

Surabaya, 16 Juli 2026

No More Posts Available.

No more pages to load.