Ketika Damai Hanya Ilusi: Catatan dari Teluk yang Terus Membara

oleh -14 Dilihat

Ini adalah bahasa lain dari perang: menyerang pinggiran untuk mengguncang pusat.

Di titik ini, pertanyaan tentang siapa pelaku menjadi kurang penting dibandingkan siapa yang diuntungkan. Jika Iran berada di balik serangan itu, ia sedang mengirim sinyal bahwa dirinya belum kehilangan daya pukul, bahwa tekanan tidak akan membuatnya tunduk.

Namun langkah semacam ini juga mengandung risiko besar: ia justru menyatukan negara-negara Teluk yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri. Arab Saudi, Qatar, Yordania, hingga Mesir kini menemukan alasan baru untuk berdiri dalam barisan yang sama.

Ancaman eksternal, dalam sejarah kawasan ini, selalu menjadi perekat paling efektif.

Dan di sanalah ironi itu menguat. Sebuah serangan yang dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan, justru berpotensi melemahkan posisi strategis dalam jangka panjang. Ia membuka jalan bagi konsolidasi keamanan regional, bahkan mungkin mempercepat lahirnya pakta pertahanan yang selama ini hanya berbisik di ruang-ruang diplomasi.

Baca Juga  Nusron Wahid Hadiri Sidang Kabinet Prabowo di Tengah Sorotan KPK dan Rapor Merah Survei Kinerja Menteri

Dalam logika klasik balance of power di Hubungan Internasional, keseimbangan kekuatan memang bisa mencegah perang besar. Tetapi jalan menuju keseimbangan itu sering kali dipenuhi oleh eskalasi kecil yang saling memancing, hingga satu di antaranya tak lagi bisa dikendalikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.