Ketika Jalanan Menjadi Ruang Keadilan

oleh -5 Dilihat
Ansori

Di Makassar, amuk massa yang membakar gedung DPRD bahkan menelan korban jiwa. Di Kediri, kantor pemerintah hangus dilalap api, seolah menegaskan betapa rapuhnya legitimasi birokrasi. Peristiwa ini juga membawa pesan mendalam: amuk massa dan hilangnya keadilan bukan hanya dirasakan rakyat perkotaan, tetapi juga menjalar ke daerah dan pedesaan. Ketika rakyat kecil di daerah pun merasa dipinggirkan, maka bara kemarahan menjalar tanpa mengenal batas administratif.

Di Yogyakarta, kantor polisi ikut dibakar, dan fenomena serupa terjadi di beberapa daerah lain. Pola ini menunjukkan bahwa rakyat tidak sekadar marah, melainkan ingin mengirim pesan keras: simbol-simbol negara tidak lagi sakral ketika negara gagal menjalankan fungsinya.

Baca Juga  Government Exposition FISIP Unpatti Bahas Politik Digital, Disinformasi dan Masa Depan Demokrasi

Rakyat yang Terluka dan Elite yang Mewah

Ada paradoks yang menyedihkan di sini. Rakyat kecil menjadi aktor sekaligus korban. Mereka yang turun ke jalan, marah, lalu membakar, seringkali berakhir ditangkap atau tewas. Sementara para elite yang seharusnya bertanggung jawab atas ketidakadilan tetap aman di balik tembok kekuasaan.

Amuk massa bukan hanya tragedi sosial, tetapi juga potret betapa timpangnya beban yang ditanggung. Rakyat mengorbankan nyawa dan kebebasan, sementara elite hanya mengeluarkan pernyataan klise dari balik meja rapat.

No More Posts Available.

No more pages to load.