Ketika Kritik Dicap “Londo Ireng”: Siapa Sebenarnya yang Sedang Mengkhianati Republik?

oleh -48 Dilihat

Dalam tradisi jurnalistik, kabar baik memang penting. Tetapi kabar buruk sering kali jauh lebih penting, karena di sanalah negara dipaksa bercermin.

Cermin memang tidak pernah bersalah hanya karena wajah yang dipantulkannya tampak kusam.

Ironisnya, pidato Presiden justru menghidupkan pertanyaan yang lebih besar daripada istilah “londo ireng” itu sendiri.

Siapa sesungguhnya yang layak berbicara tentang pengkhianatan terhadap republik?

Dalam perjalanan politik Indonesia, publik tentu tidak lupa bahwa nama Prabowo Subianto telah lama menjadi bagian dari perdebatan sejarah bangsa. Mulai dari polemik yang berkaitan dengan penculikan aktivis menjelang Reformasi 1998, pemberhentiannya dari dinas militer, hingga perjalanan panjangnya di luar negeri setelah perubahan politik nasional. Semua itu merupakan bagian dari catatan sejarah yang telah berulang kali menjadi bahan diskusi publik, penelitian, maupun pemberitaan media.

Baca Juga  PLN UP3 Ambon Perkuat Layanan Kelistrikan dan Sinergi dengan Pemkab Buru

Terhadap berbagai tuduhan tersebut, Prabowo telah berulang kali menyampaikan penjelasan dan bantahan dalam berbagai kesempatan. Namun justru karena sejarah itu begitu panjang dan kompleks, akan lebih arif bila seorang pemimpin berhati-hati menggunakan istilah “pengkhianat” kepada warga negara lain.

No More Posts Available.

No more pages to load.