Ketimpangan Ruang Sidang, Hillary Lasut Soroti Urgensi Penguatan Public Defender

oleh -27 views
Reformasi hukum di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah politisi muda, Hillary Brigitta Lasut, melontarkan kritik tajam terkait ketimpangan dalam sistem peradilan pidana di tanah air.

“Jika aparat dibebankan target penindakan, maka harus ada public defender yang kuat untuk menjaga keseimbangan dan mencegah penyimpangan,” tegasnya.

Masyarakat Rentan Paling Terdampak

Ia menilai, lemahnya posisi pembela umum di Indonesia berdampak langsung pada masyarakat kecil yang kerap tidak memiliki akses terhadap bantuan hukum yang memadai.

Kasus salah tangkap maupun salah tuduh dinilai masih sering terjadi akibat minimnya pendampingan hukum sejak tahap awal penyidikan.

“Lemahnya ruang bela sipil membuat masyarakat miskin rentan menjadi korban, terutama ketika berhadapan dengan oknum aparat yang mengejar target kasus,” ujarnya.

Tak hanya di tingkat akar rumput, Hillary juga menyoroti potensi kriminalisasi di level kebijakan. Ia menyebut batas antara kesalahan administratif dan tindak pidana sering kali kabur, sehingga kebijakan publik dapat diseret ke ranah hukum karena tekanan politik atau opini publik.

Baca Juga  SUV China Mirip Jeep Wrangler Ini Siap Guncang Pasar Off-Road

Dorong Pembentukan Satgas Anti-Kriminalisasi

Sebagai solusi, Hillary mengusulkan pembentukan satgas khusus untuk mencegah praktik kriminalisasi serta mendorong penguatan kelembagaan pembela umum di Indonesia.

“Sekiranya ada satgas deregulasi, bagaimana jika juga dipertimbangkan satgas anti-kriminalisasi?” ujarnya.

Menurutnya, selama ini lembaga bantuan hukum di Indonesia masih menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari sisi anggaran, akses, maupun perlindungan hukum.

No More Posts Available.

No more pages to load.