Bagi Kristo, tawaran bantuan itu menjadi sesuatu yang tak pernah berani ia impikan. Selama dua tahun terakhir, keterbatasan biaya membuat harapannya untuk kembali berjalan normal terasa begitu jauh.
Kristo diketahui merupakan anak yatim piatu yang kini tinggal bersama walinya. Kondisi tersebut membuat dukungan untuk menjalani pengobatan menjadi sangat berarti bagi masa depannya.
Berawal dari Santunan, Berujung Harapan untuk Pulih
Aksi spontan Kurnala itu bermula dari kegiatan sosial yang menjadi bagian dari perayaan HUT ke-12 Partai Perindo di Kota Tual. Dalam kegiatan tersebut, santunan diberikan kepada 26 penerima yang terdiri atas janda, anak yatim piatu, dan penyandang disabilitas.
Saat salah seorang anak penyandang disabilitas maju untuk menerima santunan, Kurnala juga tergerak memberikan bantuan pendidikan berupa beasiswa hingga anak tersebut menyelesaikan sekolahnya.
Di tengah kegiatan yang berlangsung, perhatian Kurnala kemudian tertuju kepada Kristo yang mengalami disabilitas fisik akibat kecelakaan.
Tanpa menjadikan latar belakang sebagai pertimbangan, ia menyatakan kesediaan membantu biaya operasi pemuda tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.
Kurnala menegaskan, bantuan yang diberikan merupakan panggilan kemanusiaan dan tidak membedakan latar belakang suku, agama, maupun ras.









