“Ia dipandang sebagai bagian dari Poros Perlawanan yang dekat dengan Iran, tetapi pada saat yang sama cukup nyaman menempuh jalur negosiasi dan diplomasi,” ujarnya.
Lahir dan besar di Gaza, al-Hayya selama ini dikenal sebagai negosiator utama Hamas dalam berbagai perundingan gencatan senjata dan pertukaran tahanan dengan Israel.
Namanya semakin menguat di internal Hamas setelah tewasnya Ismail Haniyeh di Teheran pada Juli 2024 dan Yahya Sinwar beberapa bulan kemudian.
Fokus Tetap pada Gaza
Pengamat Timur Tengah dari ECFR, Hugh Lovatt, menilai kepemimpinan al-Hayya tidak akan mengubah arah strategis Hamas secara drastis.
Menurutnya, al-Hayya merupakan figur yang mewakili kesinambungan kepemimpinan karena selama ini menjadi orang dekat Sinwar dan terlibat dalam berbagai pengambilan keputusan penting organisasi.
Lovatt mengatakan masih ada tokoh-tokoh Hamas yang memiliki pandangan lebih keras. Namun, al-Hayya dinilai telah menunjukkan pendekatan yang lebih realistis dalam proses negosiasi, termasuk terkait gencatan senjata.
Sementara itu, Profesor Universitas Northwestern Qatar, Khaled al-Hroub, menilai terpilihnya al-Hayya mengirim dua pesan penting.
Pertama, struktur organisasi Hamas dinilai masih tetap berjalan meski banyak pemimpin politik dan militernya tewas dalam perang. Kedua, Gaza tetap menjadi pusat pengambilan keputusan strategis organisasi.









