Kipei Main Kuda Kayu, Pemilik Ruko di Pasar Mardika Ambon Tempuh Jalur Hukum

oleh -8 Dilihat

“Kita ini masyarakat Indonesia, kita cari hidup. Bagaimana dong (mereka) datang dengan preman bagitu banyak bagimana orang ruko cuman satu dua orang bisa lawan dorang. Saya pernah bicara, dong bentak katong dan menyebut ose (Kamu) tutup mulut. Ose kalau  ada ikut 69 jang banyak bicara. B (Saya) jawab, b ini seng (Tidak) banyak bicara tapi kasihan itu sudara-sudara katong itu jang kastaku dengan  tetemomo karena preman,” ujarnya. 

Ci Hong juga mempertanyakan, mengapa dari 300 ruko di Pasar Mardika, hanya 50 pedagang yang izinnya diperpanjang. 

“Apakah 250 pemilik ruko lainnya itu bukan rakyat. Keadilannya di mana,  beta sebagai rakyat, ada yang bilang beta sebagai orang China, beta bilang tutup dalam mulut jang panggil beta China. Ose panggil beta China, sekarang ose urus beta pulang sampe di China. Beta kerja di sana. Beta juga hidup. Beta kerja di Indonesia dan beta jadi warga Indonesia yang baik dan patuh terhadap aturan. Tapi jang datang dengan yang jago,” tegasnya dalam dialeg Ambon. 

Baca Juga  Bau Busuk Limbah Ganggu Aktivitas Kantin Unpatti, Mahasiswa Desak Rektor Segera Bertindak

Ci Hong mengaku pernah keluar untuk membeli obat saat suaminya sakit sekitar pukul 02.00 WIT dini hari, ternyata banyak preman yang berkeliaran. Mereka minta sejumlah uang, sehingga dirinya terpaksa menutup ruko.