Sang ayah, Sirin, adalah bekas budak Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Sirin menikah dengan Shafiyah, budak Khalifah Abu Bakar .
Dr Abdurrahman Ra’fat Basya dalam “Mereka adalah Para Tabiin” menceritakan Shafiyah adalah seorang gadis muda yang cerah wajahnya, baik hatinya, pandai dan sangat disayangi penduduk Madinah yang mengenalnya.
Sedangkan Sirin, menurut Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu adalah seorang yang bagus agamanya, bagus akhlaknya, dan menjaga kehormatannya. “Aku telah menjalin hubungan dengannya semenjak ia menjadi tawanan Khalid bin Walid bersama empat puluh budak lain yang masih kecil-kecil. Setelah dibawa ke Madinah, Sirin menjadi bagianku dan aku sangat berutung mendapatkan dia,” kata Anas saat menjawab Khalifah Abu Bakar tentang siapa Sirin.
Muhammad bin Sirin lahir dua tahun sebelum berakhirnya khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dan tumbuh besar di suatu rumah yang dipenuhi semerbak wewangian takwa dan wara di setiap sudutnya.
Memasuki usia remaja, anak itu mendapati masjid Rasulullah penuh dengan para sahabat dan tokoh tabi’in seperti Zaid bin Tsabit, Anas bin Malik, Imron bin Hushain, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair dan Abu Hurairah . Kepada merekalah Ibnu Sirin belajar agama Islam.











