Puasa Asyura yang jatuh setiap 10 Muharram memiliki akar sejarah yang kuat dengan Nabi Musa AS dan kaumnya. Kisahnya diceritakan dalam sejumlah hadits.
Disebutkan dalam riwayat dari Abdah bin Sulaiman dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah RA, ia berkata:
كَانَ عَاشُورَاءُ يَوْمًا تَصُومُهُ قُرَيْشُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ كَانَ رَمَضَانُ هُوَ الْفَرِيضَةُ وَتَرَكَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ.
Artinya: “Hari Asyura merupakan hari di mana kaum Quraisy melakukan puasa semasa jahiliah. Dan Rasulullah melakukan puasa hari Asyura. Setelah tiba di Madinah, beliau melakukan puasa Asyura dan memerintahkan (kaum muslimin) untuk melakukan puasa Asyura. Ketika puasa Ramadan telah diwajibkan, maka yang puasa Ramadan lah yang wajib, sedangkan puasa Asyura ditinggalkan. Barang siapa yang berkeinginan, maka ia melakukan puasa Asyura dan barang siapa yang berkeinginan, maka ia meninggalkannya.” (HR Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi dalam Jami’-nya)
Menurut penjelasan dalam Syarah Syama’il Nabi Muhammad SAW Imam At-Tirmidzi terjemahan Masturi Irham dan Malik Supar, puasa Asyura merupakan bentuk syukur Nabi Musa AS kepada Allah SWT. Sebab, pada hari itu Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan kaumnya dan membinasakan Fir’aun beserta bala tentaranya.









