Kisah Wali Songo Sunan Muria, Dakwah Pakai Pendekatan Budaya hingga Topo Ngeli

oleh -20 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Sunan Muria adalah salah satu satu Wali Songo yang berdakwah kepada masyarakat di sekitar Gunung Muria. Ia menggunakan pendekatan budaya dalam menyampaikan ajaran Islam.

Ada beberapa pendapat mengenai silsilah Sunan Muria. Sebagian besar sumber menyebutkan Sunan Muria adalah putra dari Sunan Kalijaga.

Sumber lain menyebut ia adalah putra Raden Usman Haji atau Sunan Mandalika. Sunan Muria sebelumnya dikenal dengan Raden Umar Said.

Dikutip dari Sejarah Sunan Muria yang diterbitkan oleh UIN Walisongo, Sunan Muria dan Sunan Kalijaga menerapkan strategi dakwah yang sama.

Keduanya berdakwah dengan halus dan penuh toleransi terhadap tradisi yang sudah lama berkembang di masyarakat. Mereka memasukkan unsur Islami dalam tradisi yang sudah ada.

Sunan Muria gemar bergaul dengan masyarakat kalangan bawah yang berada di pelosok-pelosok. Hal itulah yang membuat masyarakat mudah menerima ajaran yang disampaikan oleh Sunan Muria.

Baca Juga  Richard Rahakbauw: Pengawasan di Buru & Buru Selatan Harus Sesuai Kesepakatan

Membaurnya Sunan Muria dengan masyarakat kalangan bawah dikenal dengan sebutan “topo ngeli”. Seperti dikutip dari buku Sunan Muria (Raden Umar Said) karangan Yoyok Rahayu Basuki, “topo ngeli” berarti menghanyutkan diri dalam masyarakat. Dakwah dengan metode ini tersebar hingga lereng Gunung Muria.

Ia berdakwah lewat kesenian. Seperti gamelan, wayang, dan tembang jawa. Ajaran yang disampaikan Sunan Muria meliputi penghayatan kebenaran dan ketaatan pada Allah SWT, wirid, kesederhanaan, kedermawanan, ajaran dakwah secara bijak dalam menghadapi budaya masyarakat.

Beberapa hasil kesenian peninggalan Sunan Muria yang masih dipelajari hingga saat ini adalah tembang Kinanthi dan Sinom. Tembang Kinanthi menceritakan tentang bimbingan dan kasih sayang orang tua kepada anaknya.

Baca Juga  Kejari Halsel Cabangkan Zona WBK dan WBBK

Sedangkan tembang Sinom menceritakan tentang kehidupan masa remaja. Di dalamnya berisi nasihat-nasihat untuk anak-anak remaja.

Dalam kisah pewayangan, Sunan Muria menggubah beberapa kisah dengan memasukkan unsur-unsur Islami di dalamnya. Salah satu kisah yang dibawakannya adalah Dewa Ruci. Teknik bercerita yang digunakan Sunan Muria membuat masyarakat dari kalangan pedangan, nelayan, pelatu, hingga rakyat biasa mudah menerima ajarannya.

Sunan Muria wafat sekitar tahun 1551. Beliau dimakamkan di atas Gunung Muria.

(red/detikcom)

No More Posts Available.

No more pages to load.