KOHATI Solutif di Era Post-Truth, Membaca Ikhtiar Kepemimpinan Nadra Tehuayo

oleh -346 views

Literasi kritis menjadi instrumen penting bagi perempuan untuk merebut kembali ruang produksi pengetahuan. Tanpa literasi, perempuan hanya menjadi konsumen wacana; dengan literasi, perempuan dapat tampil sebagai produsen gagasan dan agen perubahan. Dalam kerangka ini, KOHATI dituntut hadir sebagai ruang aman sekaligus ruang dialektika—tempat kader dilatih berpikir, berdebat, dan bersikap berdasarkan argumentasi yang bertanggung jawab.

Musyawarah sebagai Ruang Dialektika

Dukungan rekomendasi dari sejumlah komisariat terhadap pencalonan Nadra Tehuayo menunjukkan adanya harapan kolektif kader akan perubahan arah kepemimpinan KOHATI Cabang Ambon. Namun harapan tersebut tidak boleh berhenti pada figur. Ia harus diterjemahkan ke dalam kerja-kerja nyata: memperkuat sistem kaderisasi, memperluas ruang intelektual, serta membangun kemandirian organisasi.

Baca Juga  LPAI Maluku Pastikan Pendidikan Korban Kekerasan Seksual Tetap Berlanjut

Musyawarah KOHATI ke-XXXIV sejatinya tidak boleh direduksi menjadi arena perebutan posisi semata. Musyawarah adalah ruang dialektika tertinggi organisasi—tempat gagasan diuji, nilai dipertaruhkan, dan arah sejarah ditentukan. Dalam konteks ini, gagasan KOHATI Solutif patut dibaca sebagai undangan terbuka bagi seluruh kader untuk terlibat dalam perdebatan sehat tentang masa depan KOHATI.

No More Posts Available.

No more pages to load.