Kritik untuk KNPI

oleh -615 views

Oleh: A. Malik Ibrahim, Sekretaris DPW Partai NasDem Maluku Utara

TADI  malam (Rabu, 9 Agustus, 2023), bertempat di Cafe Sabeba Ternate, saya diundang diskusi oleh adik-adik KNPI. Topiknya menarik, “Napak Tilas Kepemudaan, Refleksi Ketua-Ketua KNPI”. Dari lanskap politik pemuda/KNPI, sebagai refleksi untuk sebuah titik temu yang mempersatukan. Seturut kita bertanya; apakah forum ini adalah representasi kegelisahan anak-anak muda Maluku Utara, atau sekedar menyampaikan  igauan dari tidur panjang?

Bagi saya, hari-hari lampu itu telah berlalu. Lima  puluh  tahun yang silam, ketika Deklarasi Pemuda dicetuskan, fase yang menandai kelahiran KNPI. Tepatnya, 23 Juli 1973. Apa arti kehadiran KNPI? Apakah KNPI sengaja dibentuk untuk menertawai sikap nativisme pemuda? Atau justru mempertanyakan kembali bentuk-bentuk legitimasi, mitos-mitos dan romantisme kepeloporan pemuda? Orang nyaris tak butuh kernyit dahi untuk menyimak gejala pelemahan itu. Boleh jadi, andai pemuda menjadi semacam hero, ia tak lebih dari sekedar simbol dari suara-suara yang membungkam.

Baca Juga  Tuntut Desa Barataku Jadi Pelabuhan Singgah, Warga Loloda Tengah Hadang KM Sabuk Nusantara 35

Lima  puluh  tahun telah berlalu. Dan zaman pun berubah,  seraya mempercepat gerak gegas orang-orang. Ada riak, ada ombak. Tapi tak ada gelombang. Pemuda, entah oleh sebab apa, seperti menyadari bahwa mereka hanya sebuah sosok tanpa identitas. Begitu banyak kisah anak-anak muda yang gemuruh tapi kemudian sedih. Di tengah perubahan sosial budaya yang tak tenteram, “kediamdirian” hanya suatu gejala. KNPI dapat mendengar suara itu, jika dapat membebaskan diri dari segala bayangan, dari kenangan masa lalu, dan dari optimisme  masa depan.

No More Posts Available.

No more pages to load.