Porostimur.com | Jakarta: Kantor Staf Presiden (KSP) menilai pembangunan dua bandara di Kepulauan Maluku yakni Bandara Namrole di Pulau Buru Selatan dan Namlea di Pulau Buru mendesak dilakukan.
Menurut Deputi I Kepala Staf Kepresidenan, Febry Calvin Tetelepta, pembangunan dua bandara itu akan membuka konektivitas dan mengatasi keterisolasian antar pulau.
“Sehingga bisa membuka pertumbuhan ekonomi baru di wilayah lainnya di Maluku,” tutur Febry saat memimpin Rapat Percepatan Pembangunan Infrastruktur Bandara Namrole dan Bandara Namlea di Jakarta, Kamis (4/2/2021).
Rapat itu dihadiri perwakilan Kementerian Perhubungan, pengelola Bandara, hingga kepala daerah dua wilayah itu. Febry pun menegaskan, pembangunan bandara mampu mengatasi penumpukan masyarakat serta pergerakan ekonomi yang hanya berpusat di Kota Ambon.
Apalagi, lanjut dia, masih banyak wilayah lain di Maluku yang punya kekayaan, baik sumber daya alamnya di darat dan di laut, selain pariwisata.
“Dengan transportasi yang lancar dan mudah maka pasti akan menumbuhkan pertumbuhan ekonomi baru di wilayah tersebut dan sudah pasti kehidupan dan kesejahteraan masyarakat akan meningkat,” tutur Febry.
Secara rinci, dia memaparkan pentingnya perluasan Bandara Namlea, terutama dengan menambah panjang lintasan dari 1.600 meter menjadi 2.259 meter. Sehingga, sebagai bandara penyangga bisa memfasilitasi pendaratan pesawat jenis Boeing 737.




