Porostimur.com, Ambon – Dunia media sosial mendadak diramaikan dengan viralnya lagu “MBG (Mas Bahlil Ganteng)” yang beredar luas di berbagai platform digital. Lagu ini hadir dalam beragam genre musik, mulai dari remix hingga versi akustik, dan sukses mendongkrak popularitasnya di kalangan warganet.
Fenomena ini tidak sekadar hiburan semata, tetapi juga menandai pergeseran besar dalam komunikasi politik modern. Lagu yang awalnya lahir sebagai ekspresi kreatif netizen kini bertransformasi menjadi ruang diskursus publik yang masif, didorong oleh kekuatan algoritma media sosial.
Dari Satire Digital ke Panggung Politik
Awalnya, lagu tersebut diciptakan sebagai bentuk kritik sosial-politik yang dikemas secara jenaka. Namun, dalam ekosistem digital saat ini, makna sebuah konten tidak lagi sepenuhnya berada di tangan penciptanya.
Viralitas lagu “My Little Bolu Ketan” dengan lirik “Mas Bahlil Ganteng” menjadi contoh bagaimana algoritma mampu mengangkat sebuah konten menjadi fenomena nasional, bahkan masuk ke ranah politik.
Ketua DPD I Partai Golkar Maluku Umar Lessy, menyambut positif tren tersebut. Ia menilai viralnya lagu tersebut sebagai bagian dari kreativitas generasi muda yang patut diapresiasi.
“Kalau dari saya sih sesuai dengan pernyataan Pak Sekjen Sarmuji, Golkar menyambut baik,” ujar Umar di Ambon, Selasa (2/6/2026).











