Lahan Basah 3T

oleh -58 views

Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Mula-mula, program itu datang seperti undangan pesta. Anak-anak sekolah akan mendapat makanan bergizi. Ibu-ibu tak perlu terlalu cemas anaknya berangkat ke sekolah dengan perut kosong.

Bersama itu, petani berharap hasil panennya terserap. Peternak membayangkan telur dan ayam mereka punya pasar tetap. Negara hadir bukan dalam bentuk pidato, melainkan dalam bentuk nasi hangat, lauk, sayur, dan segelas susu.

Gagasannya sederhana. Bahkan terlalu indah untuk ditolak. Siapa yang tega menentang anak makan bergizi?

Karena itu, ketika Presiden Prabowo Subianto meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG), banyak orang menyambutnya dengan tepuk tangan. Sebagian mendukung karena keyakinan ideologis. Sebagian lagi karena alasan kemanusiaan.

Baca Juga  Wali Kota Ambon Wajibkan Seluruh Transaksi Keuangan Pemkot Secara Nontunai

Apalagi, program ini tidak semata-mata digambarkan sebagai pembagian makan siang untuk murid-murid di sekolah yang halamannya sudah dipaving rapi dan ruang kelasnya sudah dilengkapi pendingin udara.

MBG lebih-lebih diperkenalkan sebagai ikhtiar menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia yang paling rentan. Anak-anak di wilayah tertinggal. Ibu hamil di desa-desa miskin. Kawasan yang selama puluhan tahun lebih sering dikunjungi janji ketimbang kebijakan.

No More Posts Available.

No more pages to load.