Lapang Intoleransi

oleh -665 views

Untunglah, di balik semua itu masih ada pemandangan yang menenangkan. Warga tetap shalat. Mereka tetap bertakbir. Tidak di lapangan yang dilarang, tetapi di tempat lain. Mereka tetap bersalaman. Mereka tetap memaafkan, mungkin juga memaafkan sang walikota.

Dan di situlah pelajaran paling sederhana muncul: ibadah tidak pernah benar-benar bisa dibatasi, hanya bisa dipindahkan.

Maka mungkin ini saatnya kita merenung ulang. Bahwa toleransi bukan tentang menyeragamkan waktu, tetapi memberi ruang bagi perbedaan. Bahwa konstitusi bukan alat untuk mengunci, melainkan untuk membuka. Dan bahwa Idul Fitri bukan soal tanggal yang sama, tetapi hati yang sama-sama lapang.

Karena pada akhirnya, yang paling menyedihkan bukanlah perbedaan hari raya, melainkan ketika kita gagal memahami makna hari raya itu sendiri.

Selamat Hari Raya Idulfitri
Minal ‘Aidzin wal Faizin
Mohon Maaf Lahir Batin

Baca Juga  Pemkab Haltim Tetapkan Status Tanggap Darurat Banjir Dorolamo Selama 7 Hari

Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 21/3/2026

No More Posts Available.

No more pages to load.