Semua kritikan dari bawah dianggap angin lalu. Hingga kemarin, pada hari kemerdekaan, penduduk Aceh mengibarkan bendera putih. Tanda menyerah karena penduduk di daerah bencana diabaikan.
Orang baru tersentak ketika melihat anak-anak muda marah. Lambang burung Garuda diambil dan diinjak-injak. Perasaan nasionalisme orang kemudian meledak.
Tidak ada yang peduli ketika rakyat Aceh menderita. Orang baru peduli ketika bendera atau lambang negara diinjak-injak.
Persoalannya kemudian adalah mengapa ini semua terjadi?
Saya kira, rejim yang baru berkuasa kurang dari dua tahun ini memang mengembangkan satu mekanisme kekuasaan baru. Ia tersentralisir. Dia terkomando ala militer. Dan tentu, komando tertinggi ada di tangan presiden.
Dia pegang kendali tertinggi. Dan dia tidak suka pada sistem kenegaraan yang ada. Dia hanya percaya pada satu hal: militer. Hanya militer yang bisa membereskan semuanya. Hanya militer, gaya militer, komando militer yang bisa efektif menangani semua hal.
Dia potong birokrasi habis-habisan. Dia kurangi anggarannya. Dia potong semua yang dia anggap tidak efisien. Dia tidak terlalu suka dengan kebijakan (policies) yang baik, yang dikaji secara matang, yang diuji sebelum dijalankan. Dia percaya bahwa komando bisa menyelesaikan semuanya. Dan komando itu adalah dirinya sendiri.









